Seratus satu
Oleh : Alfin Rizal
Alfin kecil berlari menemui Mia sepulang
sekolah. Ia mendengar kabar bahwa hari ini ibu Mia meninggal dunia. Mia adalah
sahabat dekat Alfin sejak belum sekolah. Dan saat itu, saat ibu Mia meninggal
mereka baru duduk di kelas 4. Sebenarnya, Alfin tidak terlalu sedih mendengar
kabar itu, malahan dia bersyukur karena ibu Mia dipanggil Tuhan untuk menempati
rumah barunya di Surga. Setidaknya, itu yang sering dikatakan Ibunya.
“Orangmeninggal itu berarti dia di panggil Allah untuk menghuni rumahnya di
Surgasana.” Jelas teringat kalimat ibunya ketika menceritakan perihal surga.
Maka disaat kerumunan warga berada di rumah Mia, Alfin mencari-cari suara
tangisan Mia diantara tangisan lainnya. Lewat celah kecil, Alfin melihat Mia
sedang menangis digendong bibinya. Melihat Mia menangis tak ketulungan tanpa
disadari air mata Alfin ikut menetes dan dia mulai menangis. Warga mendengar
Alfin menangis, dibawalah ia di suatu kamar. Tak lama kemudian, Mia pun hadir
di dalam ruanganitu digendong Bibinya.
“Sudah jangan nangis. Nanti ada orang
gila. Sekarang kalian mainan ini dulu ya? Dek Alfin. Jangan nangis. Bilang sama
Mia, jangan nangis.” Perintah Bi Narsih sambil menyodorkan sebuah mainan.
Boneka Barbie berjumlah delapan. Kecil-kecil.
Alfin berhenti menangis lebih cepat dari
Mia. Dia bingung apayang harus ia lakukan dengan boneka-boneka dan Mia yang
sedang menangis itu. Tiba-tiba ia berdiri dan keluar dari kamar, Mia tidak
terlalu mempedulikan Alfin yang meninggalkannya, bahkan suara tangisannya
semakin kencang acuh tak acuh. Namun, suasana itu berubah sepuluh detik
kemudian.
“Buaaa! Aku monster dari Jurang Apu.
Bertugas mengambil anak-anak yang suka menangis! Arrggghhh .. grrrhhhhh….”
Alfin masuk lagi kedalam dengan berjalan seperti robot, seluruh wajahnya ia
coret dengan arang. Seluruhwajahnya. Sambil tengak-tengok Alfin mendekati Mia.
Dan bukannya takut, Mia malah mengencangkan tangisannya, namun sedikit
demi sedikit tangisan itu menjadi ketawa setelah monster itu tiba-tiba berubah
jadi banci.
“Endang, duli-duli dendang, bu. Nape
nangis, ciiiinnn.” KiniAlfin mendadak lekong. Sementara Mia tak kuat menahan
tawanya dan melupakan begitu saja tangisan kencang itu. Melihat Mia tertawa
karena ulahnya, Alfin semakin menjadi-jadi berperan sebagai banci. Alfin
bercerita bagaimana monster dikutuk menjadi banci. Namun belum selesai
bercerita, bibinya membuka lawang dan menghentikan gelak tawa mereka yang
sampai terpingkal-pingkal.
“Hushh! Kalian, boleh ketawa tapi jangan
keras-keras. Disana banyak orang. Ayo Alfin, kesini. Kamu dicari ibumu dari
tadi.” Kemudian bibi itu menggandeng mereka berdua.
“Besok certain lagi ya!” bisik Mia
kepada Alfin. Alfin hanyamengacungkan jempolnya dan berkedip ala banci.
“Kamu tulis aja ceritanya di buku. Nanti
aku pasti membacanya.” Alfin kecil dan Mia kecil berjalan seiringan bersama
bibi Narsih. Mereka mengantar Alfin pulang di seberang jalan.
“Mia tunggu dulu…ada…” teriak Bibi
Narsih.
Terlambat. Mobil itu tak terkendali.
Berhenti setelah Mia terpental sejauh dua meter. Jeritan pun bersahutan. Mereka
semua memanggil nama Mia yang terkulai lemas di jalanan. Darahnya mengalir
deras. Orang-orang yang sedang mengurusi pelayat ibu Mia sontak kabur dan
melihat keadaan Mia. Sementara tepat di jarak satumeter. Seorang bocah
laki-laki tak dapat mengeluarkan apapun bahkan suaranya. Bahkan air matanya. Ia
hanya terpaku, mematung melihat Mia yang dikerumuni orang-orang. Hidup
seolah-olah menjadi bergerak dengan sangat lambat. “Tuhan, cepat sekali Kau
buatkan rumah untuk Mia?” ucapnya dalam hati.
Sepuluh tahun kemudian..
“Meski perjuangannya selama dua puluh
tahun dilaksanakan dengan serius, Monster itu masih belum terlepas dari
kutukannya. Dia masih saja menjadi banci yang sama sekali tidak ditakuti orang.
Bahkan orang-orang telah mencemooh Monster itu. Mia, inilah ceritaku yang ke
seratus satu. Apa kau sudahmembaca semuanya? membacanya di Surga sana? Aku
sudah tumbuh dewasa, umurku sekarang dua puluh tahun. Seharusnya kamu juga
sudah dua puluh tahun. Apakah diSurga kamu juga bertambah tua?”
Alfin mengakhiri tulisan itu dengan
senyum merona. Wajahnya haru. Alfin dewasa sekarang tenang bahwa dia tidak lagi
mendengar tangisan Mia. Ia pikir, episode ke seratus satu menjadi ending dari
dongeng yang ia bangun sejak masih sepuluh tahun usia.
“Mia, jika ditanya mengapa aku
menulis? Maka jawabanku adalah kamu. Karena kamu pasti akan membaca tulisanku.
Aku tahu mengapa dulu kamu menyuruhku menulis dan bukan mendongeng langsung
kepadamu. Karena kamu harus pergi dan tak kembali kan? Betapa hebatnya kau! Di
usiamu yang begitu muda, kenangan yang begitu singkat, dan kalimat yang
terlontar itu, kamu membuatku menjadi seperti ini. Novel-novel ini, semua
tentang kamu, karena kamulah alasan mengapa aku menulis.”
Unsur Instrinsik
o Tema
: Mengapa Aku Menulis
o Judul
: Seratus Satu
o Penokohan
:
Ø
Tokoh utama :
Alfin : Setia kawan, Kocak dan senang menghibur,
tekun dalam meraih mimpinya dalam menulis walaupun di akhir cerita dikatakan
bahwa ia masih belum mencapai cita-citanya.
Ø
Tokoh Pembantu :
Mia : Motivator Alfin.
Bi Narsih : -
o Latar
:
Ø
Tempat : Di rumah Mia
Ø
Waktu : Saat Ibu Mia meninggal
Ø
Suasana : Mengharukan, dari awal cerita dikatakan bahwa Ibu
Mia (sahabat Alfin) meninggal, beberapa saat kemudian Mia yang meninggal karena
tertabrak mobil.
o Sudut
pandang : Penulis sebagai tokoh utama
o Plot/Alur
: Mundur, karena rentetan kisah yang dijabarkan penulis di awal cerita
merupakan flashback masa lalunya.
o Amanat
:
Ø
Kematian adalah sebuah takdir yang tak bisa ditentang,
bersedih boleh saja, tapi jangan berlarut dalam kesedihan.
Ø
Sebuah motivasi hendaknya ditanamkan didalam hati, agar
kelak mimpi yang diuntai sejak kecil bisa tercapai.
Unsur ekstrinsik:
- Nilai sosial : Melayat jika ada keluarga dari kerabat dekat yang meninggal dunia.
- Nilai Agama : Menjenguk dan mendoakan keluarga kerabat yang meninggal dunia.
- Nilai budaya : Anak kecil sering ditakut-takuti oleh mitos-mitos jaman dahulu.
Nama : Dara Pihar Utami
Kelas : 12 Ipa 1
Kelas : 12 Ipa 1
Tidak ada komentar:
Posting Komentar