Pemuda Pemudi Bangsa Yang Berkarakter
Sebuah Blog atas Apreasi terhadap Indonesia
Senin, 10 November 2014
Selasa, 30 September 2014
Menganalisis Cerpen Indonesia
Nama : Cylvia Evasari Margaretha
Kelas : XII IPA 1
MARTINI
Oleh: Kurniawan Lastanto
Wanita itu bernama Martini. Kini ia kembali menginjakkan kakinya di lndonesa, setelah tiga tahun ia meninggalkan kampung halamannya yang berjarak tiga kilometer dari arah selatan Wonosari Gunung Kidul.
Didalam benak Martini berbaur rasa senang, rindu dan haru. Beberapa jam lagi ia akan berjumpa
kembali dengan suaminya, mas Koko dan putranya Andra Mardianto, yang ketika ia tinggalkan masih berusia tiga tahun. Ia membayangkan putranya kini telah duduk dibangku sekolah dasar mengenakan seragam putih – merah dan menmpati rumahnya yang baru, yang dibangun oleh suaminya dengan uang yang ia kirimkan dari arab Saudi, Negara dimana selama ini ia bekerja.
Martini adalah seorang tenaga kerja wanita yang berhasil diantara banyak kisah mengenai tenaga kerja wanita yang nasibnya kurang beruntung. Tidak jarang seorang TKW pulang ketanah airnya dalam keadaan hamil tanpa jelas siapa ayah sang janin yang dikandungnya. Atau disiksa, digilas dibawah setrikaan bersuhu lebih dari 110 derajat celcius, atau tiba – tiba menjadi bahan pemberitaan di media massa tanah air karena sisa hidupnya yang sudah ditentukan oleh vonis hakim untuk bersiap menghadapi tiang gantungan atau tajamnya logam pancung yang kemudian membuat kedubes RI, Deplu dan Depnaker kelimpungan dan tampak lebih sibuk.
Sangatlah beruntung bagi Martini mempunyai majikan yang sangat baik, bahkan dalam tiga tahun ia bekerja, ia telah dua kali melaksanakan umroh dengan biaya sang majikan. Majikannya adalah seorang karyawan disalah satu perusahaan minyak disana. Ia bekerja sebagai seorang pembantu rumah tangga di El Riyadh dengan tugas khusus mengasuh putra sang majikan yang sebaya dengan Andra, putranya. Hal ini membuatnya selalu teringat putranya sendiri dan menambah semangat dalam bekerja.
Dengan cermat Martini memperhatikan sekeliling, akan tetapi ia tidak melihat seorang saudara atau kerabatpun yang ia kenal. Sempat terbersit rasa iri dan kecewa ketika ia menyaksikan beberapa rekanannya yang dijemput dan disambut kedatangannya oleh orang tua, anak atau suami mereka. Namun dengan segera ia membuang jauh – jauh pikiran tersebut. Ia tidak ingin suuzon dengan suaminya.
“mungkin hal ini disebabkan karena kedatanganku yang memang terlambat tiga hari dari jadwalkepulangan yang direncanakan sebelumnya,” pikirnya huznuzon.
Dan pikiran ini malah membuatnya merasa bersalah, karena ia tidak memberitahukan kedatangannya melalui telepon sebelumnya.
Akhirnya ia memutuskan untuk menuju terminal pulogadung dengan taksi bandara. Oleh karena ia tidak tahu dimana pool bus maju lancar terdekat dari bandara soekarno-hatta, ia berharap diterminal pulogadung ia bisa langsung menemukan bus tersebut dan membawanya ke wonosari dengan nyaman, karena badannya sekarang sudah terlalu letihuntuk perjalanan panjangyang ditempuh dari arab Saudi.
Tanpa ia sadari, martini telah sampai didepan rumahnya, rumah yang merupakan warisan ayahnya, yang ia huni bersama mas koko, andra dan ibunyayang telah renta. Namun bingung dan pertanyaan muncul dalam benaknya. Yang ia lihat hanyalah rumah tua tanpa berubahan sedikitpun, kecuali kandang sapi didekat rumahnyayang kini telah kosong. Sama keadaanya dengan tiga tahun lalutatkala ia meninggalkan rumah tersebut.
“ mana rumah baru yang mas koko bangun seperti yang ada difoto yang mas koko kirimkan tiga bulan yang lalu. Apakah ia membeli tanah ditempat lain dan membangunnya disana. Kalau begitu syukurlah,” pikirnya mencoba huznuzon.
Ia ketuk perlahan – lahanpintu rumahnya. Namun tidak ada seorangpun yang muncul membukakan pintu “kulo nuwun, mas…! Andra…! Mbok…!”
Beberapa saat kemudian barulah pintu yang terbuat dari kayu glugu tersebut terbuka.” Madosi sinten mbak?” Tanya seorang bocah berusia 6 tahun yang tak lain adalah andra yang muncul dari balik pintu.
“Andra aku ini ibumu, sudah lupa ya. Apakah bapakmu tidak menceritakan ihwal kedatanganku?” ucap martini balik bertanya.
“Ayah? Kedatanagn ibu? Oh mari masuk. Sebentar ya, andra bangunkan mbah dulu,” ujar Andra sambil berlari menuju kearah kamar neneknya.
Martini masuk kedalam rumah dan duduk diatas amben yang terletak disudut ruangan depan, seraya memperhatikan keadaan didalam rumah yang ia huni sejak kecil tersebut. Keadaan dalam rumahpun tidak tampak ada perubahan yang berarti.
“Martini ya. Wah – wah anakku sudah datangdari perantauan,” terdengar suara tua khas ibu martini sedang setengah berlari keluar dari kamarnya, menyambut kedatangan anaknya, diikuti oleh andra , membawakan segelas the hangat.
“bagaimana keadaan simbok disini?”, Tanya martini.
“oh, anakku simbok di sini baik – baik saja, kamu sendiri bagaimana, tini?” “saya baik – baik saja mbok, ngomong – ngomong mas koko dimana mbok?” Tanya martini. Mendengar pertanyaan itu, tiba – tiba air muka ibu martini berubah, ia tampak berpikir – piker sejenak.
“ oh mengenai suamimu, nanti akan simbok ceritakan, sebaiknya kamu ngaso dulu. Kau pasti capek setelah melakukan perjalanan jauh. Jangan lupa the hangatnya diminum dulu,” saran ibu martini.
Martini menurut saja apa yang dikatakan ibunya. Setelah menikmati segelas the hangat, ia mengangkat kaki dan tiduran di atas amben. Namun tetap saja ia tidak dapat memejamkan matanya. Pikirannya tetap melayang memikirkan suaminya ; dimana dia, apakah dia merantau ke Jakarta untuk turut mencari nafkah diperantauan, dimana letak rumah barunya, atau apakah mas koko malah meninggalkan dirinya dan menikah dengan wanita lain?”
“ah tidak mungkin,” pikirnya kembali berusaha untuk tetap huznuzon.
Ia mencoba bangkit lalu menemui ibunya yang sedang memasak dipawon.
“maaf Mbok, dimana mas koko, tini sudah kangen dan ingin berbicara dengannya,” ujar martini membuka kembali percakapan. Ibu martini tampak kembali berfikir sejenak, lalu berdiri dan mengambil segelas air putih dingin dari kendi.
“ minumlah air putih ini agar kamu lebih tenang, Tini, nanti simbok ceritakan di mana suamimu berada, kalau kamu memang sudah tidak sabar.”
Sementara itu martini bersiap untuk mendengarkan dengan seksama penuturan ibunya.
“ tiga bulan lalu rumah yang dibuat suamimu atas biaya dari kamu sudah jadi. Letaknya didusun sebelah sana, namun sejak itu pula kesengsem sama seorang wanita. Wanita itu adalah tetangga barunya. Dua bulan lalu mereka menikah dan meninggalkan andra bersama simbok. Tentu saja simbok marah besar kepadanya. Namum apa daya, simbok hanyalah wanita yang sudah renta, sedang ayahmu sudah tiada, dan uang yang simbok pegangpun pas – pasan. Mau mengirim surat kepadamu simbok tidak bisa, kamu tahukan simbok buta huruf. Mau minta tolong kepada siapa lagi, sedangkan kamu adalah anakku satu – satunya. Kamu tidak mempunyai saudara yang bisa simbok mintai tolong untuk mengirimkan surat kepadamu, sedangkan anakmu, andra masih kelas 1 SD”.
Mendengar penuturan ibunya, martini langsuung menangis, ia sedih marah dan kalut.
“mengapa simbok tidak melaporkannya ke pak kadus dan pak kades, dan beliaupun sudah berjanji untuk membantu simbok. Namun sampai saat ini simbok belum mendapatkan jawabannya. Sedangkan suamimu sendiri dan istri barunya , tampak tak peduli denagn suara – suara miring para tetangga. Dan untuk lapor ke KUA, simbok tidak berfikir sampai kesitu, maafkan simbok,” tambah ibunya dengan suara yang terdengar bergetar.
“Duh Gusti...., paringono sabar...,." terdengar Martini terisak, berusaha untuk tetap ingat kepada Yang Maha Kuasa. Bagaimana bisa, suami yang begitu ia cintai dan ia percaya, dapat berbuat begitu kejam terhadapnya. Apalagi ia sekarang tinggal bersama istri barunya, di rumah hasil jerih payahnya selama tiga tahun merantau di Arab Saudi.
"Mbok, di mana rumah baru itu berada?”
wajah ibunya terlihat ketakutan, ia tidak tahu apa yang akan dilakukan anaknya dalam keadaan kalut di sana apabila ia tahu letak rumah tersebut.
"Mbok,d i mana Mbok,” Suara Martini semakin tinggi, namun ibunya tetap diam.
,”Kenapa simbok tidak mau membertihu. Apakah Simbok merestuinya?_Apakah simbok mendukungnya? Apakah Simbok membela bajingan itu dari pada saya anakmu sendiri? Apakah.....”
“Diam Tini, teganya kamu menuduh ibumu seperti itu. Kamu mau menjadi anak durhaka? Ingatlah kamu kepada Tuhan,Nak, ingatlah kepada Gusti Allah,N ak"
Kalimat itu muncul dari mulut ibunya, yang kemudian terduduk menangis mendengar ucapan pedas anaknya tersebut.
“ya sudah kalau Simbok tidak mau memberitahu. Tini akan cari sendiri rumah itu,” teriak Martini seraya meninggalkan ibunya yang sangat bersedih, yang berusaha mengejarnya namun kemudian jatuh tersungkur di halam depan rumahnya karena tidak mampu lagi mengeiarnya.
“Hei , mana Koko, bajingan sialan,"teriak Martini sambil berjalan membabi buta, menyusuri jalan dengan muka merah Padam.
Pikrannya kacau balau.
“Buat apa aku bekerja jauh-jauh mencari uang di Arab Saudi demi kamu dan.Andra tetapi mengapa kau tega memanfaatkanku, menggunakan uangku untuk membuat rumah dan tinggal di sana bersama istri barumu,
Kurang apa aku?”
Mendengar teriakan Martini, kontan para tetangga di sekitar situ segera berhamburan ke luar rumah. Mereka kebingungan menyaksikan ulah Tini yang sudah tidak mereka lihat selama tiga tahun, tiba – tiba muncul kembali di dusun itu dengan tingkah laku yang berubah 180 derajat. Martini yang dulunya lembut, penurut, kini kasar dan beringasan. Apakah ia telah gila? Apakah yang telah terjadi terhadap dirinya di Arab saudi? Apakah ia
Dianiaya sebagaimana sering terdengar berita di media massa mengenai TKW yang disiksa?.
Namun kemudian mereka segera menyadari. Hal ini pasti karena Martini telah mengetahui perbuatan suaminya. Segera saja mereka mengejar dan mencoba menenangkan Martini. Namun dengan kuat Martini mencoba melepaskan tangannya dari dekapan tetangganva itu. Dan saat itu pula ia melihat suaminya, ya Koko bajingan itu, keluar dari rumahnya. Koko tampaknya tidak menghiraukan kedatangannya. Bahkan istri barunya itu
terlihat dengan mesranya berdiri disamping koko yang meletakkan keduavtangannya dipinggang koko.
,,” hei, siapa kamu. Tini ya. Kenapa kamu kesini? Ini rumahku bersama mas koko. Bukannya kamu sudah mati, kalau belum mendingan kamu mati saja sekarang. Itu lebih baik, dari pada mau merusak kebahagiaan kami. Bukan begitu mas koko?” ujar wanita yang ada disebelah koko sambil mengalungkan tangan kanannya dileher koko dengan lembutnya.
Hal ini jelas membuat tini makin marah.
“hai , dasar kau, wanita murahan, tidak tahu diri. Koko adalah suamiku. Dan kau koko, mengapa kau tega menipuku, meninggalkanku hanya untuk menikahi wanita keparat ini. Dasar bajingan.”
Dekapan tetangga yang memegang Martini akhirnya lepas. Dengan cepat Martini meraih sebuah bamboo yang tergeletak di bawah pohon nangka dan berlari menuju kearah koko dan istri barunya. Dengan tidak hati-hati ia menaiki anak tangga yang menuju kedalam rumah baru itu. Secepat kilat ia mengayunkanbambu itu ke arah mereka berdua. Namun malang, belum sampai bamboo itu mengenai sasaran, ia kehilangan keseimbangan. Ia terpeleset dari dua anak tangga dan jatuh terjerembab tak sadarkan diri.
”Mbak – Mbak bangun Mbak. Mau turun di mana Mbak.
Ini sudah sampai di wonosari," terdengar sayup-sayup suara pemuda yang
duduk di dekat Martini.
"Astaghiirullaahaladzlm .Ha...apa...?.. W onosari," Tanya M artini.
“ Ya Mbak sepertinya dari tadi Mbak gelisah tidurnya" ujar pemuda itu
”Apakah benar ini wonosari?" Tanya Martini memastikan seraya mengarahkan pandangannya keluar jendela.
Ya ini adalah daerah yang telah tiga tahun ia tinggalkan.
"Alhamdulillah ya. ,Allah terima kasih," batin Martini bahagia.
"Astaghiirullaahaladzlm .Ha...apa...?.. W onosari," Tanya M artini.
“ Ya Mbak sepertinya dari tadi Mbak gelisah tidurnya" ujar pemuda itu
”Apakah benar ini wonosari?" Tanya Martini memastikan seraya mengarahkan pandangannya keluar jendela.
Ya ini adalah daerah yang telah tiga tahun ia tinggalkan.
"Alhamdulillah ya. ,Allah terima kasih," batin Martini bahagia.
UNSUR
INTRINSIK
· Tema
: percayalah pada niat baikmu
· Latar
:
Tempat
: dalam bis(dalam perjalanan) dan di kampung
Waktu
: tiga tahun setelah kepergian martini ke Arab Saudi
Suasana
: menegangkan
· Plot/alur
: alur cerita itu adalah alur maju karena jalan cerita dijelaskan secara
runtut. Pada awal cerita. Diawali dengan pengenalan tokoh, kemudian si tokoh
bermimpi, pada mimpinya timbul suatu pertentangan yang berlanjut ke
konflik (klimaks) dilanjutkan dengan antiklimaks dan pada akhir cerita terdapat
penyelesaian.
· Perwatakan
:
Martini : wataknya yang sabar,lembut
,pekerja keras, bertanggung jawab
Mbok
: sabar
Andra : patuh terhadap orang tua
Mas
koko : tidak bertanggung jawab terhadap keluarga
· Sudut pandang
: orang ketiga
· Amanat :
- Keuletan dan kesabaran dalam bekerja akan membuahkan hasil yang baik
-
Selalu berniat baik untuk mendapatkan berkat dari Tuhan
UNSUR
EKSTRINSIK
· Nilai Moral
: seseorang haruslah bersikap tidak berburuk sangka terhadap sesama manusia
· Nilai
Agama : Selalu berbuat baik untuk mendapatkan berkat dari Tuhan Yang Maha Kuasa
· Nilai
Sosial : Bekerja di negeri orang untuk membantu perekonomian keluarga
· Nilai
Ekonomi : Susahnya mencari uang di negeri orang
· Nilai
Budaya : Istri yang merantau ke negeri orang untuk mencari nafkah sedangkan
suaminya hanya menunggu di rumah. Ini sangat bertentangan dengan nilai budaya
yang seharusnya suami mencari nafkah untuk keluarga
cerpen - Fernaldi Haviz
KAU YANG MERUBAH HATIKU Awal dari sebuah rasa manis akan tetap manis jika kita pintar megolah rasa manis itu agar tetap manis. Cerita itu berawal pada sebuah hubungan antara cewek manis yang sering disapa Indi dengan cowok yang sering dipanggil Ihsan. Hubungan mereka yang telah berjalan hampir 9 bulan ini berawal mulus dan penuh dengan bahagia. Rasa pahit ini dimulai saat hari-hari sebelum ulang tahun aku diakhir bulan awal tahun ini. Sebuah perubahan terjadi pada Ihsan. Waktu yang tak pernah ada untukku membuatku sudah kehabisan kesabaran untuk selalu ngertiin Leo yang sibuk berkerja,hingga hari liburpun ia tetap bekerja. Hingga 2 minggu sebelum ulang tahunku,aku mengirim sebuah pesan panjang kepada Ihsan. To : (085643xxx890) Ihsan sayang Aku tak tau knp km berubah. Km lupa dgn semua janji hubungn kita. Aku rasa ini puncak dari sebuah rsa sabarku. Aku ingin kita udahan aja,jalan ini mgkn yg terbaik. Maaf utk smua dan maksh untuk hari2 lalu. Aku bukn berhnti mencintai tpi aku ingin berhnti menyakiti hati. Dengan rasa berat hati dan meneteskan air mata,aku mengirim pesan itu ke dia. Namun seperti yang sudah aku duga,tak ada tanggapan dari Ihsan hingga satu minggu sebelum ulang tahun. Hari-hariku sangat berat saat ia sedang menghadapi ujian yang sedang berlangsung di kampusnya aku juga harus menghadapi masalah dengan Ihsan Saat aku berkeluh kesah dengan sahabat akrabnya yang suka dpanggil “Sipit” namun ia juga tak memberi respon bahkan saat aku memulai cerita, “pit,aku sebel deh ama Ihsan,aku dicuekin,sampe aku ngomong putus aja gak direspon,pokonya akau penegen putus dari Ihsan ………….” Belum selesai aku bercerita sipit langsung jawab dengan pernyataan juteknya dan muka jelek, “udah ah mb Indi,aku mau pulang,capek aku”,sambil dia meanarikku untuk pulang. Dengan rasa sedih aku menganggukkan untuk mengiyakan agar sipit pulang. Aku berjalan menuju tempat parkir motor sambil memikirkan,kenapa dengan Sipit. Otakku ini penuh banget,Sipit jadi berubah, Ihsan juga gak kalah berubah,ditambah ujian yang bakal dihadapi. Dalam hatiku cuma berucap “ ujian hidup dan ujian kampus kok berat banget”. Aku mencoba menghubungi Pit berulang kali namun jawaban dari operator selalu sama “nomor yang anda tuju sedang sibuk”. Aku mencoba sms Sipit.. To : (085678901xxx) Sipit Pit,kok sekarang kmu berubah,saat ini kau butuh kamu pit Sambil menunggu balasan dari Sipit aku berpikir apa Sipit juga punya masalah jadinya gak mau dicurhatin. Tak berapa lama ada pesan masuk dihandphoneku,dalam hati inginnya leo yang sms aku. Tap aku yakin pasti Sipit yang balas. Jreng,,dengan terkejut … Dari : (085643xxx890) Ihsan sayang Sayang aku lagi sibuk buat beberapa minggu ini. Setelah baca ini ada rasa lega tersendiri ternyata dia sibuk tapi makan hati juga kalau gini terus. Lalu tak berapa lama sipit menyusul membalas sms dariku. Dari : (085678901xxx) Sipit Mb Ndi,sorry aku lagi irit pulsa,gak bisa balas smsmu. Dengan rasa yang udah bercampur dihati sms mereka takku balas,dan membuang handphoneku dari hadapanku. Jam dinding di kamarku yang udah nunjukkin pukul 23.00 WIB tapi mata susah banget dipejamin. Udah beberapa hari ini aku tidur diatas jam 01.00 WIB. Tapi aku berusaha memejamkan mata namun handphone berdering,sebuah lagu menjadi lagu tanda panggilan masuk. Aku tak ingin melihat siapa yang menelpon malam gini,tapi telepon itu tidak berhenti berdering. Ku coba melirik handphone dan melihat sebuah nama yang taka sing,karena ternyata yang telepon itu adalah Ihsan. Dengan segera aku menganggat telepon. “Assalammualaikum, Ndi”. Sebuah salam yang terdengar dari seberang namun kali ini Ihsan berubah karena memanggilku Indi. “Walikumsalam,gimana ada apa?” dengan gaya biasa karena tetep aku jaga gengsi. Hehehe.. “kok belum tidur,Ndi”,dengan nada datar dan tanpa dosa. “belum aja,belum ngantuk. Kamu sendiri kenapa belum tidur juga?” “Kok panggilnya ‘kamu’ ?”. Ihsan ini paling gak suka kalau dipanggil ‘kamu’ walaupun lagi marahan. Aku juga Cuma jawab singkat,”kamu ja panggil aku Ndi”. Malam ini begitu dingin,sekalinya telepon seperti ini. Lama sekali kami terdiam,entah apa yang dipikirkan oleh Ihsan saat ini. “Em,tidur yuk,udah malam,nanti sakit.” sebuah ucapan manis dari Ihsan ini lumayan menyejukkan hati kalau dia masih perhatian denganku. Aku dengan sedikit menghilangkan gengsi,”ya udah tidur,besok kan kamu kerja juga” “ya udah,met malam ya”. Tuttt.. Tuttt..Tutttt … Tiba-tiba telepon itu terputus,aku belum sempat membalas ucapannya. Bahkan ucapan yang sering dilakukkan pun tiba-tiba hilang. Aku tetap tidak bisa tidur,aku berpikir terus “apa yang kamu mau sih Ihsan,putus gak dikasih jawaban,tapi masih perhatian”. Dengan gemasnya boneka beruang yang pernah ia berikanpun jadi sasaran kemarahanku. Aku coba mengajak bicara boneka itu, “apa sih mau mu Ihsan?” “aku ini masih pacaramu bukan?” “aku bingung ma kamu”. Sambil kupukul-pukul boneka itu,”jawab dong,diem aja kamu”. Tiba-tiba air mata ini menetes perlahan dan dengan rasa sayang aku memeluk boneka. Dengan lirih aku berucap, “Ihsan aku sayang ama kamu,tapi kamu bikin aku nagis terus.” Pelukanku keboneka menemaniku hingga aku terbangun dari tidurku. Pagi cerah ini dengan mata agak sedikit sembab mencoba untuk bersemangat ke kampus. Hari ini bakal jadi jadwal yang paling bosen,kuliah dan rapat organisasi hingga sore. Tapi aku berpikir ini mungkin cara menghilangkan rasa sedihku. Seperti biasa aku janjian dengan Sipit di kampus karena beberapa mata kuliah kami sama jadi kadang kami sekelas. Kami mendapat julukan “emak dan anak” karena tiap Sipit dating duluan yang ditanyain aku begitu juga sebaliknya. Dari belakang mencoba mengagetkan Sipit,“dor…Pit,,,” “yeee…mb Indi,kagetin aja. Gak sedih lagi ni?” “udah enggak dong,kan males mikir orang yang gak mikir aku” “kenapa Ndi mata kamu,dicium nyamuk apa semut cowok ni.hahahaha”. Dengan gaya khas ketawa sambil matany merem sipit mengejekku. “apaan sih kamu,Pit.. Ini mata sembab karena aku pompa,niatnya matanya biar belok dan gak Sipit kayak kamu”. Sambil aku membuka mata dengan jariku dan berlari karena aku ngejek Sipit. Seketika itu pikiranku tentang Ihsan hilang, ya walaupun Sipit gak dengerin ceritaku, setidaknya bisa bikin ketawa aku. Karena kami punya semboyan “Kita gak sedih lagi,gak nangis lagi”. Itu Cuma kalimat dari lirik lagu Smash tapi bisa bikin seneng. Hari-hari berikutnya terasa cepat sekali,sampai gak inget kalau besok udah hari ulang tahunku. Dan beberapa hari ini gak nyangka nama Ihsan hilang di pikiranku,kita sama-sama gak saling smsan atau telepon. Hari yang ditunggu namun bikin kecewa,semalaman aku tak tidur berharap Ihsan bakal jadi orang pertama yang mengucapkan ulang tahun ini. Tapi aku gak begitu peduliin itu,karena banyak sahabat,keluarga yang memberiku ucapan dan lebih special. Lebih malasnya lagi hari ini masuk kuliah,sesampainya disana. Sebuah kejutan kecil dari temen-temen. “happy bday to u,,,happy bday to u,,happy bday,happy bday,happy bday Indi…..” Sebuah donat kecil dan lilin diatasnya dibawa oleh Sipit untukku. “Tiup lilinya mb Ind,tapi,,,make a wish dulu ya…” Ku memejamkan mata dengan sebuah doa,dan saat ku buka mata ini ku meniup lilin. Donat kecil itu ku potong kecil-kecil agar semua temen ikut menikmati,walaupun dikit. Suapan pertama untuk sipit sambil cipika cipiki. “Happy bday mb Indi” “makasih sayangku” Dan hari ini waktu itu cepat sekali,kejutan dan ucapan tak henti-hentinya datang. Namun tak satu smspun dari Ihsan untuk mengucapkan ulang tahun. Sekalinya aku lihat jam udah jam 17.00 WIB. Dan saatnya pulang kerumah dengan rasa penuh kebahagiaan. Aku jadi mengerti arti sebuah persahabatan. “balik yuk,Pittttt,udah capek ni seharian dan aku juga udah bosan kalau ketemu kamu terus.heheheh..” sambil gemes ama pipinya yang chubby banget. Dengan jengekelnya Sipit menarik tanganku,”sakit tauuu…hehehehe. Serius ni bosan ma aku?hehehe”. “iya,untung aja kuliah itu gak 24 jam,coba 24 jam bisa mati konyol ketawa ma kamu terus.” “Agh,nyebelin mb Indi ni,”dengan muka manyunnya. “Tapi kalau ketawa sambil merem dan gak boleh manyun ntar tak tinggal pulang lho” “jangan,,nebeng sampe depan ya”,dengan muka melas dia dan senyum Sipitnya. Dengan sikap hormat,aku menjawab “siap laksanakan boss..sipitnya mana sipitnya”,aku mencoba masih menggodanya. Aku dan sipit menuju parkir kampus untuk mengambil motor . Saat menuju motorku aku heran kok ada sebuah kantong plastik yang tergantung dimotorku. “Pit,tu ada plastik punya sapa ya?” “Ya punya mb Indi dong,kan dimotor mb Indi” “Tapi aku tadi gak bawa apa-apa,jangan-jangan…………..” “jangan-jangan apa mb Indi?” “jangan-jangan Bom Pit,kaburrrrrr…………”,aku langsung berlari berniat ngerjain sipit yang kaget. Sipit juga ikut lari dan berterika,”Mb Indi tunggu”, dengan nada manja anak kecil. “mb Indi,liat aja yuk” Kami mencoba kembali ke motor kami dan melihat isi kantong yang ada di motorku itu. Jrenggg……jrenggg… coba tebak apa isinya… “Agh,flasdisk??”,aku dan sipit mengatakan hal yang sama. “tau gitu aku nitip kamu aja biar,masak ngomong aja kita barengan” “gak apa-apa mb Indi,kita itu emang ditakdirin bersama-sama” “udah-udah,,kamu ntar GR malah berabe.” Sambil ku lihat kantong itu barang kali ada yang lain,“maksudnya apa ya Pit ini?” “gak tahu,coba dicari ada tulisan dari pengirim gak” “Ini ada tulisan pit”,aku membaca sebuah memo kecil dari sang pengirim. ‘Indi,ini flas ada sesuatunya, dilihat pas pukul 20.20. gak boleh dilanggar’ Dari : pengirim flasdisk “mb In,jangan-jangan dalemnya ada Syahrininya,tu ada sesuatu” “Hahahaha,,,kamu itu aneh-aneh aja,mana muat Syahrini masuk flasdisk” Aku masih bingung dengan ini,maksud dan isi dari flas ini apa. Kulihat sipit mebolak balik kantong itu. “Kenapa pit,kok dibolak balik?”,anak satu ini aneh banget. “ya ini kantong nyebelin mb In,gede kantongnya isinya Cuma flas. Gak ada makanan atau apa gitu” Sambil gemesin pipinya,”kamu itu,makan mulu….udah kita pulang. Jadi gak sabar pengen liat isinya apa” Setelah sepanjang jalan memikirkan isi flas,tak terlintas akan pikiran tentang Ihsan. Seakan beberapa hari ini aku dibuat amnesia tentang Ihsan. Aku juga tak mengenali tulisan tangan dari si pengirim. Sebuah tanda tanya besar dipikiran ini belum terjawab. Malam sudah mulai larut,berulang mata ini melirik jam dinding namun seakan jam itu berputar sangat lambat. Sudah tek terhitung berapa kali mata ini melirik untuk menunggu pukul 20.20. rasanya tunggu sesuatu yang bikin penasaran itu sangat menyebalkan. Setelah menunggu beberapa saat sms masuk ke Hpku. Dari : (085678901xxx) Sipit Isinya apa mb Ind? Aku segera mereplay sms sipit. To : (085678901xxx) Sipit Gak tau juga,ntar lagi aku buka. Waktu yang ditunggu sudah datang,seperti anak yang mendapatkan hadiah aku sangat begitu antusias untuk mengetahui isi flas itu apa. Langsung ku buka dilaptopku dan hanya ada sebuah file yang berformat video. Bergegas aku membuka video tersebut. Sebuah video ucapan selamat ulang tahun dari Ihsan. Disitu Ihsan menyanyikan lagu milik Ipang yang berjudul “Akhirnya Jatuh Cinta”,” Tak Ada gantinya”, “Tanpamu” yang merupakan lagu favorit kita. Didalam video Ihsan sambil bermain gitar menyanyikan lagu itu. Diakhir video itu Ihsan mengatakan sesuatu yang sangat menyentuh. “aku sekarang tau siapa yang harus aku perjuangkan,ternyata kau harus memeprjuangkan kamu,bila cintaku dan cintamu bersatu aku yakin cinta ini kekal dan abadi utnuk selamanya karena kamu semangat hidupku” Diakhir kata-kata dari Ihsan membuat aku menagis terharu dan senyum bahagia. Beberapa saat kemudian ada yang mengetuk pintu rumah,sambil aku menghapus air mata ini aku beranjak untuk membukakan pintu. Saat kubuka pintu,sebuah kejutan yang termanis yang aku terima. “Happy bday to u… Happy bday to u…..” Aku terkejut karena Ihsan datang bersama SIpit dan SIput. Biar jelas,siput ini adalah cowok Sipit,kita panggil Siput karena dia super karet dan lama kalau ada janjian jalan-jalan. Kalau janjian pergi bareng jam 08.00,dia bisa baru datang jam 10.00 karena kelamaan mandi. Aku lanjutin ceritanya, Ihsan dengan membawa kue ulang tahun menyanyikan lagu ulang tahun bersama Sipit dan Siput. Dengan segera aku memeluk Ihsan dan memukul Ihsan karena aku sebel dan aku bahagia. Ihsan juga membalas pelukku sambil membisikan “happy bday sayangku,” “makasih sayangku”, Ihsan juga mencium keningku.Dan aku kembali memeluknya. “Eehmmmmmmm….”,sipit ma siput mengagetkan kami. “Halooo…lilinya mau cair ni,mau ditiup gak ni?”,sipit langsung aja nerocos. “Iya dong,kan kueku,hahhahaa… tapi masuk dulu yuk,,” Setelah beberapa saat aku mentiup lilin ulang tahunku dengan sebuah doa dan ucapan terima kasih pada Allah karena udah ngembaliin Ihsan lagi. Untuk beberapa saat aku sedikit manyun ama Ihsan. “sayang itu nyebelin tau,cuekin aku” “jangan salahin aku aja,tu sipit ma siput juga. Mereka juga ikut andil dalam urusan ini”. Dengan segera aku menghampiri sipit m siput dan mencubit mereka. “dasar kalian berdua,sengkongkol ya”. Dengan muka tak berdosa mereka hanya tertawa. Dengan rasa kagen yang udah beberapa minggu gak manja-manjaan ma Ihsan. Aku mencubit karena aku masih sebel dikerjain. “aduh sayang,ampun,,,”,diraihnya aku dan dipeluk sama Ihsan. “maaf ya sayang buat kemarin-kemarin. Tapi aku gitu karena kau sayang. Love you sayang” Dengan nada manja aku menjawab,”iya sayang. Love you too sayangku” Untuk kedua kalinya,kami diganggu oleh sipit ma siput. “Hello,disini ada kami” siput bersuara untuk kali ini. “ayo mb Ind,dipotong kuenya,masak mau diliat aja” “dasar tukang makan,iya,iya,,tak potong ya” Dan lebih nyebelin lagi,kuenya ditulisin ‘happy bday Indi. Semoga cepat gemuk’. Mereka itu ada –ada aja. Selanjutnya aku memotong kue. Untuk potongan pertama aku memberikan kepada Ihsan. Dan sebuah kecupan manis dikening untukku dari Ihsan. Untuk potongan selanjutnya sipit dan siput. Kami bercanda sambil menikmati kue ulang tahun. “kok bisa kalian kerja sama,aku kasih tahu ceritanya dong” Secara bersama-sama mereka tertawa,karena sudah berhasil mengerjain aku. Cerita awal dimulai dari Ihsan, Ihsan mengajak siput dan sipit untuk ngerjain aku. Dan semua skenario sudah dirancang. Sipit selalu memberi informasi pada Ihsan tentang aku. “sayang waktu malam itu aku telepon karena denger dari sipit kamu sedih banget. Aku gak tega jadi aku telepon” “aghh,,nyebeliin sayang tu” “hahahahaaaaaaaaa….” Mereka menertawakan kebodohanku. “terus yang kasih flas dimotorku?kan syang kerja,sipit ma aku terus,mesti siput ya”,sambil tunjuk Siput. Dengan senyumnya siput mengakui,”iya aku yang kasih flas kemotormu dan itu tulisanku. Kan kamu belum pernah liat tulisanku” “aghh,,dasar siput,kamu itu” Dan semua kembali tertawa karena melihat kebodohanku. Aku Cuma cemberut dan ikut ketawa. Ternyata kejutan dari Ihsan belum berakhir. “tutup mata sayang,gak boleh ngintip lho..” “ada apa to?” “ya udah tutup mata dulu,nanti kan tau. Tapi berdiri dong” Aku mencoba menuruti semua kemauan dia dan aku penasaran apa yang akan diberikannya,karena flas dan kue sudah menjadi kejutan yang teka terlupakan. “udah belum sih,lama banget”,dengan sebel karena gak sabar pengen tahu. “ok,sekarang dibuka perlahan ya…” Sedetik kemudian aku membuka mata,sebuah kejutan yang manis. Ihsan memberikanku sebuah cincin dan ia sambil berkata “mau kah kau berjanji untuk selalu menjaga dan mempertahankan hubungan kita dalam keadaan apapun?”. Dia bertanya seperti itu karena kalau diajak nikah aku gak mau jadi gak mungkin kalimatanya “will you married me?” bakal langsung aku tolak, Dengan rasa yang bahagia dan tak mampu berucap,aku hanya menganggukan kepala sebagai isyarat aku mau. Dan Ihsan pun memakaikan cincin itu dijari manisku. Dan sebaliknya aku. Setelah cincin ini tersemat di jari kami, Ihsan memelukku dan mengatakan sesuatu padaku, “aku janji akan menjagamu.” Dengan rasa yang tak bisa ku ungkapkan aku menjawab dari ucapan dengan,”aku juga berjanji hati ini untukmu” Dan sipit mengagetkanku dengan ucapannya untuk siput,”sayang aku juga mau kayak gini” “hahahahhahah,,,”,kami semua tertawa dengan ucapan sipit. Malam kian larut dan tak terasa jam udah nunjukkin pukul 23.00. semua pamit untuk pulang. Namun aku sedih karena Ihsan juga pulang,aku masih pengen sama dia. Rasa kangenku sama dia belum terobati. Namun waktu yang bicara.Mereka akhirnya kembali kehabitat msing-masing(maksudku ke rumah masing-masing.) “mb Ind,kita pulang dulu ya”,sipit dan siput bersalaman denganku untuk pamit. “ok,,makasih ya buat kalian berdua” “sayang,aku pulang dulu ya,langsung bobo ja,udah malem,” “iya sayang,syang juga langsung bobo. Hati-hati ya,,” “iya sayang,love you sayang”,kecupan kening untukku. “love you sayang” “udah mb Ind,ntar gak selesai-selesai kalau cium peluk mulu,” sipit ngiri ni,hehehe “ya biarain,ni kan pacaraku,masak aku mau cium siput,boleh po?hahaha” aku menggoda sipit. “ya gak boleh kok” “sayang awas aja ya,” aku langsung dapet peringatan dari Leo dan Sipit.ahaahahah Dan mereka pulang kerumah masing-masing. Malam ini bahagia yang tak terkira. Dan gak mungkin aku lupakan. Aku beruntung memiliki teman dan Ihsan yang menyayangiku. Aku juga lebih bisa memaknai arti sebuah persahabatan dan kasih sayang.Dan aku berharap harapan yang aku inginkan terkabul,sebuah harapan yang tak akan ku ucapkan jika belum terjadi. Di hari berikutnya kami kembali seperti biasa, Ihsan kembali normal. Hari terasa cepat hingga tak terasa sudah masuk bulan Mei. Dan yang paling aku senang karena 27 Mei adalah satu tahun kami berpacaran,aku ingin membuat suatu perayaan kecil dengan kejutan kecil dariku. Saat sebuah rencana manis aku susun rapi dengan penuh cinta. Sebuah kabar buruk yang menghancurkan sebuah rencana itu datang. Saat beberapa hari sebelum hari itu saat dia datang kerumah sudah larut malam dan gak biasanya dia datang selarut ini. “duduk dulu sayang,mau minum pa?”,aku mempersilakan dia duduk. “makasih sayang,gak usah minum. Aku Cuma pingin malam ini ama sayang”,dengan senyum dia mengatakan itu. Tersontak aku kaget dengan ucapannya.”Maksudnya apa?” “gini,aku besok bakal berangkat berlayar ke India untuk waktu yang cukup lama”. Dia menghela nafas setelah mengahkiri ucapannya. Aku hanya bisa diam saat mendengar itu semua. Aku tak dapat mengatakan apa-apa. Aku tak suka ini semua. “sayangg…..”. dia membuyarkan lamunanku.”kamu gak apa-apa kan??” “eh,,em,,sayng serius?sayng ini Cuma bercanda kan?”. Aku mencoba mencari jawaban kalau ini semua Cuma kebohongan dia. Karena dia sering sekali mengatakan itu. “kali ini benar”,sambil dia mengeluarakan surat-surat sebagai tanda kalau kali ini dia tak berbohoong. Aku memintanya danku teliti satu demi satu saurat-surat itu. Dan benar sebuah nama negara sebagai tujuan berlayar atas nama dia. Aku menaruh kembali surat itu dan bertanya,”berapa lama berlayar?” dalam hati ku pasti wkatu yang lama karena line/tujuannya jauh. “2 tahun sayang aku akan pergi” Aku tak tahu harus bagaimana lagi saat dia menjawab 2 tahun. Aku hanya terdiam,dia pun ikut terdiam karena dia tahu pasti aku gak bisa terima ini semua. “sayang bohong kan?sayang boong ya?”,aku masih mencoba tak percaya. Namun saat tangan ini digenggamnya untuk mencoba meyakinkanku. “sayng,aku bener besok bakal berlayar. Aku tau sayang bakal kesepian banget. Apalagi di sana nanti aku juga gak dapet sinyal. 2 tahun itu aku sebulannya hanya mendarat 2 hari sayang.” Aku benar-benar terdiam tanpa sebuah sedikitpun ucapan yang aku keluarkan dari bibir ini. Aku membayangkan rencana kecilku di hari jadian kita hancur. Tangannya tetap menggenggamku untuk menguatkanku. Sedetik kemudian air mata membasahi pipiku. Sebuah sentuhan manis darinya untuk menghapus air mata ini makin membuat aku menangis. Dan selanjutnya sebuah pelukan manis darinya. Aku menangis di dadanya dengan sebuah pelukan dan belaian dia dengan diciumnya keningku olehnya. Mungkin ini pelukan terakhirnya. “sudah sayang,jangan gini. Nanti aku nangis juga,jelek kalau nangis. Cantiknya mana..”. dia masih mencoba menghiburku dan menggodaku. Dengan perlahan aku lepas pelukan ini darinya.” Sayang,aku sayang banget ama kamu. Aku gak pengen jauh dari kamu. Tapi ini untuk masa depan,aku harus dukung kamu. Aku akan tunggu kamu di sini. Aku ingin kamu janji,2 tahun lagi kamu datang kerumahku” “aku janji sayang.” Dia kembali memelukku sambil berucap,”awas aja kalau sayang punya pacar lagi,hehehe” “agh,paling syang juga di sana”,mencoba gak mau kalah aku. “aku aja bakal di air terus. Di kapal juga cowok semua. Ada juga ibu-ibu. Lagipula aku kan punya sayang yang bakal selalu ada” “gombal sayang ki” “biarin,yang penting gak gembel..hehehhe” Kami kembali tertawa dan menikmati hari perpisahan ini hingga tengah malam. “besok anterin aku ya,mau kan?” “ok deh sayang,” “tapi gak boleh cengeng ya” “ya biarain kok,,masak pacar bakal pergi jauh gak boleh nangis” Perlahan dia berdiri dari kursinya dan meraih tanganku kembali,”sayang janji ya gak macem-macem kalau aku tinggal. Inget cincin ini jadi saksi hubungan kita” “Aku janji sayang”. Sambil ku tersenyum walaupun aku sedih. “sayng aku pulang dulu ya,udah malam. Sayng bobo ya…” “huem sayang,hati-hati ya” “sampa ketemu besok ya sayang” “ok sayang”. Dengan berat aku harus melepasnya pulang dan besok hari terakhirku bertemu dengannya. Air mata ini memang tak bisa membohongi kesedihan hati ini. Perlahan menentes kembali. Aku jadi makin sedih,saat ahri-hari esok air mata ini menetes kembali siapa yang akan mengusapnya. Semoga waktu 2tahun itu akan berjalan cepat dan hari-hariku tak berubah karena aku akan tetap menjaga hati ini untuknya. Untuk orang yang telah menyayangiku setulus hati. Sebuah lagu yang menjadi kenangan manis untuk kami adalah “Ipang-akhirnya jatuh cinta”. Semua terjadi tak ku sadari tak terpikir apalgi mimpi.Tapi ternyata kini ku tak lagi berdaya.Kau memang beda dari yang pernah ku rasakan.Hanya kau yang bisa merubah hatiku tk mungkin ada lagi yang mampu membuatku seperti ini.Semua berubah saat bersamamu tak mungkin ku dapat kalau tanpaumu,sangat ku nikmti mencitaimu bersamamu. Tapi ternyata kini aku sudah bersamamu… Karena kesedihanku ini hanya sementara,karena aku percaya lelah ini hanya sebentar dan aku tak boleh menyerah walaupun ini tak mudah. Aku akan selalu ingat pesan dia untuk selalu tersenyum biar semakin mudah karena kesedihan ini hanya sementara. Dan hari-hari sepiku akan terjadi. Semoga aku bisa jalani ini semua. Dan semoga 2 tahun lagi aka nada sebuah cerita manis yang berakhir dengan sebuah kebahagiaan. Read more: http://cerpen.gen22.net/2013/08/cerpen-cinta-kau-yang-merubah-hatiku.html#ixzz3EmRADJ3d UNSUR-UNSUR INTERINSIK a. tema : tentang percintaan dua anak muda yang merubah hidupnya b. alur : alur maju karena menceritakan masa mendatang c. sudut pandang : orang ketiga serba tahu d. tokoh perwatakan : nada bersifat penyayang namun terkadang menyebalkan sipit bersifat mendukung dan melindungi nada e. latar tempat : di sebuah kota f. latar waktu : pada siang hari g. latar suasana : gembira h. amanat : jadilah orang yang baik dan saling menyayangi karena orang baik akan selalu menang UNSUR-UNSUR EKSTRINSIK
Senin, 29 September 2014
Sekali Sahabat, Tetap Sahabat
Hari ini, seperti biasa aku pergi ke sekolah bersama Dewi, sahabat baruku. Ya, sejak beberapa tahun belakangan ini aku dan dia mulai dekat. Walaupun dulu aku dan dia adalah musuh, tapi entah mengapa Dewi tiba-tiba berubah baik kepadaku. Sedangkan sahabatku, Salsa yang dulunya sangat dekat padaku menjauh dariku tepat pada saat Dewi berubah. Aneh bukan? Tapi entahlah, aku tidak ambil pusing, mungkin saja itu hanya sebuah kebetulan. tapi, sebenarnya dalam hatiku sangat sedih. Aku rindu bermain dengan Salsa, bercanda tawa dengannya, bercerita padanya. Aku ingin sekali katakan padanya bahwa aku sangat sayang padanya. Tapi itu tidak mungkin, karena setiap kali aku mencoba untuk berbicara dengannya, dia menjauhiku. Seolah-olah aku adalah musuhnya. Aku tidak mengerti, sangat tidak mengerti.
Teet… bunyi bel masuk berbunyi ketika aku dan Dewi sampai di kelas. Aku masih termenung memikirkan Salsa. Hingga, bu Mira pun masuk ke dalam kelas. Aku pun berusaha fokus pada pelajaran yang akan diberikan, ya walaupun segudang pikiran masih terjebak di dalam kepalaku.
Saat istirahat, aku diajak Dewi untuk jajan ke kantin. Tap aku menolaknya, aku ingin mencoba berbicara denagn Salsa, walaupun sering gagal, aku akan terus berusaha. Demi persahabatan kami.
Aku berkeliling sekolah, mencari salsa. Hingga aku masuk ke dalam sebuah kamar mandi. Aku menemukan Dewi dan seorang perempuan. Tidak jelas siapa, karena ditutupi pintu. Akupun menghentikan langkahku. Terdengar dari luar Dewi sedang berbicara kasar seperti sedang mengancam perempuan itu. Samar-samar kudengar namaku disebut. Tapi tidak jelas, apa yang sedang mereka bicarakan. Aku pun, makin penasaran, aku semakin mendekat, mendekat, hingga… Bruuk!! Aku terjatuh. Pandang dewi dan perempuan itu tertuju padaku. Uppps, “Salsa?” seruku terkejut. Aku semakin penasaran dan bingung. Apa yang sedang mereka lakukan di sini? Apa yang sedang mereka buicarakan? Mengapa mereka menyebut-nyebut namaku? Mengapa? Belum terjawab semua pertanyaanku, aku sudah di bingungkan lagi oleh pertanyaan dewi, “ehm… Ry, ngapain kamu?, kok tiduran depan pintu WC sich?” tanyanya terjejut. “mmm, aku tadi ada yang dorong, makanya tiduran depan pintu, eh, bukan, jatuh” jawabku bohong. Entah mengapa sesaat kemudian salsa pergi keluar, dengan wajah yang sedih.
Aku semakin penasaran, hari demi hari Salsa semakin menjauh, dan Dewi seolah ingin selalu dekat denganku, padahal ada sesuatu yang aku rasa aneh dari Dewi. Akhirnya akupun memutuskan untuk menyelidiki mereka. Aku mengikuti kemana Salsa ataupun dewi pergi. Hingga pada suatu hari, aku melihat meraka bertemu lagi, di belakag sekolah. Tapi sekarang suara mereka jelas, karena tidak dihalangi oleh apapun. Dan akhirnya akupun tau, bahwa selama ini Dewi hanya berpura-pura berteman denganku, ia hanya ingin membalas dendam kepada aku dan Salsa, karena dia tau kalau kami tidak dapat dipisahkan. Maknaya dia ingin membuat kami sedih, dan saling mennjauh, dengan mengancam salsa kalau dia tidak menjauhiku, maka dia akan menyakitiku. Makanya selam ini salsa menjauh kepadaku. Akupun, keluar dari persembunyianku. Dan berkata “oh… jadi selama ini, kamu hanya berpura-pura menjadi sahabatku? Iya?” ucapku lantang dengan penuh rasa amarah. “kamu jahat Dewi, kejam, kamu tega membuat kami menjahuh, kamu jahat. Padahal aku sudah percaya padamu, tapi kenapa? Kenapa?” akupun berlari bersama air mataku yang berjatuhan. Salsa mengejarku. Aku terus berlari, diikuti oelh Salsa. Aku sangat kecewa. Aku berlari hingga ke tengah jalan raya, beberapa saat kemudian… BRUUAKK…aku menengok ke belakang, dan ternyata… “SALSA!!!” teriakku.
Sekarang, di ruangan yang serba putih ini aku berusaha menyadarkan Salsa. “sa, bangun, bangun sa! Bangun!” isakku. Tanpa kusadari, mata Salsa mulai terbuka perlahan-lahan. Dia pun mulai berbicara. “ma, maafin aku ya, aku dah ngejauhin kamu selama ini… aku sangat menyesal. Tapi asal kamu tau, aku ngelakuin itu karena kau sayang sama ka…”. Terhenti. Suaranya terhenti yang kemudaian diiringi suara TIIIIIIT.
Air mataku kinii telah membanjir di atas pemakaman Salsa. Belum sempat aku mengatakan bahwa aku tidak pernah marah padanya, aku tau dia tidak mungkin menjauhiku. Dan bahwa aku sangaaaaat sayang padanya. Walaupun kemarin Dewi sudah meminta maaf padaku. Tetap tidak bisa menghilangkan kesediahnku, karena itu tidak akan bisa mengembalikan salsa ke dunia.
Sekarang aku hanya berharap, agar salsa bahagia di Surga, dan dapat menemukan sahabat yang akan menemaninya.
Tapi aku ingin dia mendengar bahwa, walaupun dia telah pergi, tapi aku akan tetap menjadi sahabatnya. Selamanya.
Tapi aku ingin dia mendengar bahwa, walaupun dia telah pergi, tapi aku akan tetap menjadi sahabatnya. Selamanya.
Unsur Intrinsik
Tema: Persahabatan
Alur/plot/jalan cerita: Maju
Penokohan: -Aku
-Salsa
-Dewi
Tokoh: -Aku: Protagonis
- Salsa: Protagonis (karena dia berusaha melindungi tokoh aku dari Dewi)
-Dewi: Antagonis (karena ingin membalas dendam kepada tokoh aku dengan
Alur/plot/jalan cerita: Maju
Penokohan: -Aku
-Salsa
-Dewi
Tokoh: -Aku: Protagonis
- Salsa: Protagonis (karena dia berusaha melindungi tokoh aku dari Dewi)
-Dewi: Antagonis (karena ingin membalas dendam kepada tokoh aku dengan
berusaha menghancurkan persahabatan tokoh aku dan salsa)
Setting: - latar: sekolah, dan WC
-waktu: ketika istirahat dan pulang sekolah
-suasana: haru/sedih ketika salsa meninggal
Amanat: Jika kita memiliki sahabat kita harus melindungi sahabat kita
Sudut pandang: orang pertama akuan
Gaya bahasa: ringan sehingga mudah di mengerti
Sudut pandang: orang pertama akuan
Unsur Ekstrinsik
Unsur sosial: melindungi sahabatnyaUnsur pendidikan: semua tokoh berpendidikan karena masih duduk di bangku sekolah
unsur intrinsik dan ekstrinsik cerpen Indonesia (Bagus Imam Darmawan)
Perjalanan Terindah
Di kesunyian, alarm berbunyi. Teralunkan musik merdu, terdengar bersemangat berjudul Sang Pemimpi. Mataku sedikit terbuka, pertanda mimpi indah malam ini telah usai. Jam menunjukkan pukul 03.00. Aku tetap terbaring, bukan berarti malas. Kuhayati setiap lirik musik yang kudengarkan, penuh dengan makna. Aku masih terbaring, kukumpulkan semangatku saat itu. Musik reff terdengar, semangatku semakin berkumpul. Ku terbangun dan langsung kubuka jendela kamarku. Angin pagi berhembus menyegarkan, walaupun memang masih gelap. Bibir ini berbisik, ucapan do’a tanda syukurku atas dibangunkannya jasad ini dari alam yang tak kukenal. Aku siap melewati hari ini.
Aku berjalan menuju ruang makan, kulihat ibu telah menyiapkan makan sahur. Hari ini hari senin, sudah menjadi amalan andalan kami untuk berpuasa setiap hari senin dan kamis. Ku tersenyum pada ibu, kuteruskan langkahku untuk membasuh muka, menyegarkan wajah kusutku seusai bangun tidur. Berdua saja kami duduk di depan meja makan, aku dan ibuku.
“Sudah siapkah semua barangnya, Nak?” tanya ibuku.
“Tentu saja sudah, Bu. Tinggal berangkat saja”, jawabku.
“Hati-hati ya kalau sudah di sana. Terus hubungi ibu, takut terjadi apa-apa” ucap ibuku, sedikit khawatir.
“Tenang saja, Bu. Lily bisa jaga diri kok, insya Allah”, ujarku.
“Baguslah kalau begitu. Seusai shalat subuh, ayah akan langsung mengantarmu ke stasiun”.
Aku hanya tersenyum dan mengangguk. Kulanjutkan membereskan apa saja yang harus ku bawa. Aku mungkin terlalu keasyikan, setelah shalat subuh aku malah terdiam dan merenung. Bersama kesunyian aku membayangkan, mimpiku ternyata bisa terwujud. Dengan keadaan keluarga yang apa adanya, aku bisa kuliah tanpa mengeluarkan biaya sedikitpun. Di dalam lamunanku, aku terkejut.
“Neng!” ucap ayahku dengan kerasnya.
“Iya Ayah?” jawabku kaget.
“Ayo, sudah pukul lima. Nanti terlambat masuk kereta” ucap ayahku cemas.
“Oh, baiklah Ayah”.
Dengan menaiki motor yang begitu khas suaranya, kami mulai berangkat. Ibu tak ikut mengantarku, katanya dia harus menjaga rumah. Lagipula tak bisa bila harus menaiki motor dengan tiga orang penumpang sambil membawa barang yang cukup banyak, sungguh hal yang mustahil.
“Jaga diri baik-baik, Nak. Banyak berdo’a. Tetap semangat, jangan lupa ibadahnya”, nasehat dari ibuku.
“Baik, Bu. Do’akan saja Lily semoga semuanya bisa barakah bagi kehidupan Lily” ucapku, dengan mata yang cukup berkaca-kaca.
“Iya, Nak. Ibu pasti akan selalu mendo’akanmu. Kalau begitu lekaslah, takut ketinggalan kereta”, ucap ibuku dengan air matanya yang menetes.
“Kalau begitu kami berangkat dulu, Bu. Assalamu’alaikum”, ucap ayahku.
“Wa’alaikumsalam”, jawab ibuku.
Aku pun bersalaman dengan ibu, begitupun ayah. Air mata membasahi pipi ibu. Aku mengerti, memang seperti itulah perasaan seorang ibu. Air mataku pun ikut terjatuh, hatiku luluh. Segera ku bergegas menaiki motor sambil menghapuskan air mataku. Begitu dinginnya subuh itu. Namun untungnya aku tetap merasakan kehangatan, dari jaket pemberian ibuku dan dari hangatnya punggung ayahku.
Kereta beberapa menit lagi berangkat. Aku berlari dengan kencangnya bersama ayahku, membawa barang yang cukup berat. Tepat di depan pintu kereta aku berdiri.
“Hati-hati ya Nak. Kalau ada apa-apa hubungi ayah atau ibu. Banyak berdo’a di jalan. Musafir do’anya sangat mustajab. Kabari ayah kalau sudah sampai”. ucap ayahku dengan lembutnya.
“Baik, Ayah. Doakan Lily ya”, ucapku tersenyum, namun dengan air mata yang menetes.
Ayah mengangguk. Aku masih tetap tersenyum. Tepat saat itu, kereta mulai berjalan. Aku pun masuk, kucari tempat duduk yang masih kosong, tepat di pinggir jendela. Kulihat ayahku masih berdiri, menunggu keberangkatan kereta hingga sampai jauhnya. Aku masih tetap tersenyum bersama linangan air mata. Ayahku, ibuku, dan juga desa yang kucintai ini pasti akan amat kurindukan. Di dalam hati aku semakin bertekad, aku harus bisa menggapai cita-citaku dengan baik. Ikhtiar dan do’a, sudah pasti harus selalu kulakukan.
Perjalanan di dalam kereta memang amat membuatku nyaman, menurutku. Apalagi dengan duduk tepat di pinggir jendela. Di pagi hari yang cerah, pemandangan yang indah tentu sudah sangat cukup untuk menyegarkan penglihatan ini. Asri, indah nan permai. Inilah salah satu tanda kekuasaanNya. Sesekali ku beranjak dari tempat dudukku, melangkah menuju pintu kereta. Angin berhembus, menerpa hijab biru mudaku, menggerakkan bibirku hingga akhirnya dapat tersenyum refleks, tanpa sadar. Di depan mataku terlihat sawah yang terhampar luas. Langit biru, bersama para awan dan juga burung yang beterbangan semakin memperindah suasana ini.
“ Maaf Mba, bisakah Anda menyingkir dulu dari sini?”, ucap seorang lelaki berbaju merah dengan celana jinsnya yang begitu rapi, ditambah dengan sepatu ala boybandnya berwarna matching dengan kaos merahnya. Aku sedikit ilfeel dengan gayanya saat berbicara itu. Ditambah gaya pakaiannya yang seperti orang kota. Memang tampan, namun raut wajahnya seperti orang yang angkuh. Itulah pemikiranku, sebagai seseorang yang sederhana.
“Kalau ga mau, gimana?”, ucapku sinis.
“Maaf mba, hati-hati kalau berdiri di situ, berbahaya”.
Aku terdiam. Di hatiku terjadi perdebatan. Aku menganggapnya orang kota yang angkuh, namun setelah kulihat ternyata ucapannya terasa lembut. Aku bingung, namun saat itu aku lebih memilih sinis kembali padanya. Orang kota dengan gaya seperti itu pastilah sombong, dan terkadang selalu menyakiti hati orang-orang yang sederhana, apalagi perempuan sepertiku. Bila dia memang berlaku baik padaku, dia pasti memiliki maksud yang tidak baik. Seperti apa yang dikatakan orang-orang di sekitarku, dan juga sesuai dengan pengalaman pribadiku, bahwa laki-laki yang terlihat angkuh namun memiliki wajah yang tampan, pastilah dia selalu menyakiti hati seorang wanita.
Lelaki itu berkata “Maaf mba, berbahaya berdiri di situ, saya hanya memberi tahu. Lagipula....”, aku memotong ucapannya.
“Maaf ya mas, kalau bahaya ya biar saja. Lagipula berbahaya buat saya, bukan buat Mas!” ucapku semakin sinis.
“Tapi mba..”
“Tapi apa? Jangan paksa saya dong!” ucapku dengan lebih sinis lagi.
“Maaf Mba, silakan jika mau tetap berdiri di situ. Tapi...”, ucapannya dipotong lagi olehku.
“Tapi apa?” sentakku. Aku tahu ini tidak baik, tapi aku tetap pada pendirianku yaitu berlaku sinis kepada laki-laki, apalagi yang belum kukenal.
“Mohon maaf sekali Mba, saya mau lewat ke gerbong sebelah. Saya sudah ditunggu oleh teman saya. Sebentar saja Mba, kalau saya sudah lewat, silakan kalau Mba mau berdiri lagi di situ”, ucapnya dengan sopan.
Aku cukup malu sebenarnya. Dia begitu lembut padaku, tapi aku malah menyentaknya. Akupun melangkah menjauhi pintu kereta itu dan kembali ke tempat dudukku. Dia pun melewat.
“Makasih, Mba” ucap lelaki itu sambil tersenyum.
Aku tersenyum kecil. Aku pun melangkah, dalam hati aku masih ingin tetap berdiri di sana. Kutengok ke arah belakangku, kulihat lelaki itu malah berdiri di tempat dimana aku berdiri tadi kemudian tersenyum. Aku sedikit kesal, kemudian akupun menghampirinya.
“Katanya mau lewat, nyatanya kamu malah berdiri di situ!” teriakku padanya.
“Oh, iya maaf Mba. Cuma mau berdiri sebentar, sekarang pun mau ke gerbong sebelah. sekali lagi maaf ya, Mba” ucapnya dengan begitu ramah. Dia pun berjalan meninggalkan gerbong yang ku tempati, menuju gerbong sebelah. Aku terdiam. Aku pun berdiri kembali di pintu kereta sambil melihat pemandangan dari setiap jalan yang kulewati. Akupun dapat tersenyum kembali dengan melihat semua itu.
Dari pagi sampai siang, gerbong yang ku tempati memang penuh. Namun ternyata lama-kelamaan, penumpang satu persatu turun dari kereta. Gerbong mulai kosong, maklumlah memang tujuan yang ku tuju adalah stasiun pemberhentian akhir, jadi aku harus tetap duduk di kereta hingga stasiun akhir, yaitu di Malang. Cukup sepi juga. Aku masih tetap asik melihat pemandangan sambil duduk di kursi dekat jendela kereta. Aku merenung dan terkadang tersenyum sendiri. Kulihat kembali lelaki berkaos merah tadi, duduk di dekat pintu gerbong sambil memegang kamera SLRnya. Dia memotret segala yang ada di sekitarnya, dan dia seperti memotret ke arahku. Rasa suudzon mulai muncul kembali di dalam hatiku, sepertinya dia hendak mengambil fotoku. Bagaimana bisa aku membiarkan seseorang yang tak kukenal mengambil foto wajahku. Aku pun beranjak dari tempatku, dan langsung menghampirinya.
“Kamu mengambil foto-fotoku? Buat apa, kamu orang asing, berani-beraninya mengambil fotoku!” ucapku dengan nada yang cukup tinggi. Dia hanya terdiam. Aku pun merebut SLR di tangannya. Kulihat foto-foto yang tadi dia ambil. Ternyata bukan fotoku, ada beberapa foto yang kulihat dan itu adalah foto-foto pemandangan di sepanjang jalan yang telah dilewati. Seketika itu dia merebut kembali SLRnya dengan wajah yang sinis. Aku amat tak berkutik waktu itu. Dia sepertinya kesal padaku. Aku terdiam, aku merasa amat bersalah.
“Maaf, Mas”, ucapku. Tanpa melihat wajahnya, aku langsung berlari ke tempat dudukku. Aku malu. Mengapa aku harus suudzon kepadanya, ditambah lagi kejadian tadi pagi saat aku menyentaknya. Semakin ku mengingatnya, semakin ku merasa bersalah padanya. Perjalanan masih jauh, aku belum shalat dzuhur. Biarlah, mungkin nanti bisa diqashar. Kereta berhenti di sebuah stasiun, menunggu penumpang yang akan segera masuk. Sesekali pengamen dan juga para pedagang masuk. Seorang anak kecil datang menghampiri penumpang dan memberikan amplop yang bertuliskan sesuatu.
Bapak/Ibu, mohon kasihani kami. Kami belum makan, kami lapar. Mohon minta keikhlasannya. Semoga amalan Bapak/Ibu diterima di sisi Allah, Amin.
Itulah kata-kata yang tertulis di amplop itu. Hati kecil ini merenung, betapa kerasnya kehidupan mereka. Kulihat dompetku, tak begitu banyak uang di sana. Kusisihkan sedikit saja, mungkin dapat membantu mereka. Mereka tidak mungkin berbohong, kalaulah memang mereka berbohong, aku yakin bahwa mereka membutuhkan uang dari orang lain. Sungguh hatiku tersentuh melihat anak kecil itu.
Sesekali aku melihat ke ujung kereta, duduk seorang lelaki berkaos merah tadi. Teringat kembali rasa bersalahku tadi. Aku hanya diam. Walaupun begitu, aku masih tetap saja ingin berdiri di dekat pintu kereta. Akupun berdiri kembali di sana, di dekatku duduk lelaki itu. Namun dia tidak menolehku sedikitpun, dia sepertinya marah padaku.Aku pun memakluminya bila dia bersikap seperti itu padaku. Handphone ku bergetar, ku kira ada telepon dari ayah atau ibu, ternyata hanya sms dari operator seluler. Aku terdiam kembali, aku lupa tidak mengisi pulsaku, jadi aku hanya bisa menunggu telepon dari orang tuaku.
Aku kembali merenung, melamun. Itulah kebiasaanku di waktu senggang, memikirkan berbagai hal, memberaikan segala fantasi yang ada di benakku. Aku terkejut. Lelaki berkaos merah itu menghampiriku dan langsung membawa handphone yang ku pegang. Dia berlari keluar dari gerbong kereta. Aku refleks mengejarnya keluar. Dia tersenyum. Aku kelelahan, sambil berlari aku berteriak.
“Hey kamu! Kembalikan handphoneku! Mau kau apakan handphoneku. Heyy!”. Dia menoleh, kemudian tersenyum kembali. “Sini saja ambil, kejar dong!”.
“Aku cape! Kamu siapa sih! Tolong jangan ambil hp itu. Aku masih memerlukannya untuk menghubungi keluargaku. Heeeeey!”, teriakku dengan lebih kencangnya lagi.
Dia malah berlari semakin kencang. Apa boleh buat, akupun harus berlari dengan kencang pula. Tapi jangan diremehkan, akupun bisa berlari dengan kencang, maklum juara estapet se-kecamatan pada saat sd. Aku semakin sulit mengejarnya. Aku tak tahu seberapa jauh aku berlari, yang pasti aku harus mendapatkan handphoneku. Di suatu tempat dia berhenti. Aku menghampirinya dengan nafas yang terengah-engah.
“Kok berhenti! Kenapa gak lari lagi aja sih sekalian! Puas kan!” teriakku dengan begitu kerasnya.
“Santai aja, Mba. nih Hpnya”, ucapnya sambil tersenyum.
“Loh, maksud kamu apa sih! Bawa hp saya, terus sekarang dikembalikan lagi. Ga ada kerjaan ya emangnya ......”, ucapanku berhenti. Dia memegang dahuku, dan mengarahkannya ke segala arah di sekitarku. Dia pun tersenyum. Seketika aku berkata, “Subhanallah”.
Tanpa aku sadari, aku telah berlari jauh dengannya hingga tiba di sebuah taman yang penuh dengan bunga. Keadaannya yang amat bersih dan asri membuatku terkesima tanpa batas. Aku tersenyum, terdiam, menengadah ke arah langit biru. Sungguh, inilah salah satu keindahan atas segala kekuasaanNya yang lain. Fatahmorgana alam yang begitu menyejukkan, jutaan warna yang berbeda, hidup membentuk sebuah kesatuan yang begitu luar biasa. Renunganku itu membuatku lupa akan segalanya untuk beberapa saat. Setelah itu aku teringat kembali akan suatu hal.
“Mengapa kau membawaku kemari, Mas?” tanyaku pada lelaki berkaos merah itu.
“Sudahlah, tak usah banyak tanya. Nikmati keindahan dari Sang Pencipta ini”, ucapnya sambil tersenyum.Dia memegangku dan membawaku lari. Dia tertawa, akupun tertawa. Aku tak tahu pasti mengapa aku tertawa, mungkin karena di dalam hati kecilku tumbuh perasaan yang amat membahagiakan. Dia membawaku berlari di sekitar taman, memetik banyak bunga yang berwarna-warni.
“Tunggu, Mas. Saya belum shalat. Bisakah kita shalat dahulu”, ucapku.
“Astagfirullohaladzim, saya pun lupa Mba. Baiklah kita shalat terlebih dahulu. Di sekitar sini ada mesjid”, ucapnya dengan raut wajah yang menyejukan hati.
Kami berjalan, melangkah di jalan yang penuh dengan pohon. Daun beguguran diterpa angin yang bertiup dengan begitu lembutnya. Kesejukan hati ini amat dapat kurasakan. Beberapa menit kami berjalan, kami pun tiba di sebuah mesjid. Subhanallah, mesjid yang megah dan indah. Para jamaahnya pun banyak, ada yang sedang membaca Al Qur’an, ada yang sedang duduk beristirahat, dan masih banyak lagi. Kami pun shalat berjamaah di sana.
Seusai shalat, kami berjalan-jalan kembali. Sesekali kami membeli dagangan yang ada di sekitar taman, seperti es krim, roti bakar, dan yang lainnya. Tempat singgah yang terakhir yaitu di bawah pohon yang amat rindang, di sebuah ayunan sederhana, kami duduk bersama.
“Mengapa kau mengajakku kemari?” tanyaku padanya.
“Tak apa, aku hanya ingin merasakan bisa dekat denganmu saja”, jawabnya.
“Memangnya mengapa? Kau tak mengenalku bukan?”, tanya ku kembali.
“Tentu saja tidak. Tapi saat aku melihat wajahmu, sepertinya ada suatu hal yang kurasakan. Perasaan yang tak pernah kurasakan sebelumnya”, jelasnya.
“Memangnya perasaan apa? Kamu itu memang aneh ya”, ujarku.
“Ternyata kamu itu bawel ya. Tapi bikin asyik juga” ucapnya tersenyum kembali.
“Maaf ya atas perlakuanku tadi”, ucapku menyesal.
“Sudahlah, tak usah terlalu difikirkan. Tak usah minta maaf, ekspresi wajahmu saat kau kesal padaku bukan membuatku kesal padamu. Aku malah ingin tersenyum sendiri bila mengingatnya”, ujarnya.
“Yah, gausah ngegombal lah. Eh iya, aku hampir lupa. Aku kan sedang dalam perjalanan menuju Malang. Ya Allah, tasku masih di dalam kereta. Pasti kereta telah meninggalkanku sejak tadi! Astagfirullohal’adzim”, ucapku dengan mata yang berkaca-kaca. Aku pun berlari meninggalkan lelaki itu. Dia memegang tanganku.
“Tak usah terburu-buru. Kamu masih punya waktu sekitar satu jam lagi” ucapnya seakan menghiburku.
“Satu jam lagi? Bagaimana bisa? Kereta pasti sudah berangkat dari tadi!” ucapku dengan nada cukup tinggi.“Memang sudah berangkat” ujarnya malah tersenyum.
“Terus, aku gimana? Ini dimana? Bagaimana aku bisa sampai ke Malang. Ditambah lagi barangku masih ada di kereta. Aku mau ke stasiun sekarang”.
Akupun berlari meninggalkannya. Dia mengejarku, aku berlari lebih kencang lagi sambil menangis. Aku takut, aku takut tak bisa sampai menuju cita-cita yang kutuju. Lelaki berkaos merah itu berhasil mengejarku.
“Mau kemana, Mba?” ucapnya khawatir.
“Tentu aku mau ke stasiun. Aku mau ke Malang. Kamu siapa berani mencegahku? Kamu mau menculikku?” teriakku padanya.
“Ya Allah Mba. Sabarlah dulu”, ucapnya semakin khawatir.
“Maaf Mas. Aku ketakutan”, ucapku kemudian terdiam.
“Tak usah takut Mba. Ada Allah SWT bersama Mba”, ujarnya. Aku terdiam.
“Jangan khawatir Mba. Barang Mba sudah saya bawa. Pemberangkatan menuju Malang akan dimulai pukul 17.00. Tiket sudah saya pesankan. Nanti saya antarkan ke stasiun. Untuk sekarang izinkan saya menemani Mba sebelum jadwal pemberangkatan dimulai. Saya takut terjadi apa-apa pada Mba”, jelasnya dengan penuh perhatian.
“Benarkah?”, ucapku. Dalam tangisku aku tersenyum. Dia sungguh lelaki yang baik. Aku tak tahu siapa dia, tapi aku bisa merasa nyaman dengannya. Dia hanya mengangguk, setelah itu kami berjalan-jalan kembali ke tempat yang lebih menakjubkan lagi. Hingga akhirnya, jam menunjukan pukul 16.45. Aku harus segera ke stasiun.
“Terima kasih ya Mba atas hari ini”, ucapnya dengan wajah yang berseri-seri.
“Justru aku yang berterima kasih. Maaf telah merepotkanmu”, ucakpku.
Dia tak berkata apapun, hanya tersenyum kecil. Aku berdiri di pintu kereta. Perlahan kereta berjalan. Dia memberikan sehelai amplop, entah berisi apa. Senyumnya melebar. Aku semakin menjauh darinya. Seketika aku lupa menanyakan suatu hal. “Siapa namamu?” teriakku. Dia menjawab, namun tak terdengar olehku. Yang ada hanyalah tersirat senyum manis di bibirnya yang seakan terus mengikutiku saat di dalam kereta kemudian merasuki fikiranku. Aku melangkah menuju kursi dekat jendela kereta. Kubuka amplop yang dia berikan. Isi dari amplop itu adalah foto-fotoku saat berdiri di dekat pintu kereta. Ternyata memang benar, dia mengambil foto-fotoku. Aku tersenyum. Aku bisa merasakannya, merasakan kehangatan tangannya, lembut suaranya, dan senyuman menawan di wajahnya.
Perjalanan ini akan selalu kuingat, perjalanan terindah di dalam hidupku. Sejak saat itu, aku semakin merasakan indahnya hari-hariku. Aku tak tahu dia ada dimana. Yang pasti, untuk saat ini yang harus aku lakukan adalah menggapai cita-citaku. menjadi kebanggaan orang tuaku dan dapat menjadi manfaat bagi orang lain. Aku yakin, suatu saat dia akan datang kembali. Entah kapan, tinggal menunggu waktu yang tepat dari Sang Pencipta. Inilah keyakinan hatiku. Semoga kita dapat bertemu kembali, dengan kisah yang indah dan diridhai olehNya, semoga...
Unsur-unsur Intrinsik
1. Tema : Cinta / Kasih Sayang2. Alur : Maju
Karena peristiwa yang terjadi pada cerpen tersebut berjalan sesuai urutan waktu yang maju tanpa adanya cerita tentang peristiwa dio waktu yang sebelumnya/ yang pernah terjadi sebelumnya.
3. Sudut Pandang : Orang pertama pelaku utama
Karena tokoh yang ada pada cerpen tersebut berperan sebagai “aku” yang merupakan tokoh utamanya.
4. Penokohan :
- Lily, dengan watak: baik/ solehah, keras kepala, terkadang mudah marah, selalu bersikap suudzon.
- Ibu, dengan watak perhatian dan penyayang.
- Ayah, dengan watak lemah lembut dan penyayang.
- Lelaki berbaju merah, dengan watak lemah lembut, penyayang, murah senyum, sopan santun dan romantis.
a. Tempat
- Di kamar, sesuai dengan kutipan: Ku terbangun dan langsung kubuka jendela kamarku.
- Di ruang makan, sesuai dengan kutipan: Aku berjalan menuju ruang makan, kulihat ibu telah menyiapkan makan sahur.
- Di stasiun kereta, sesuai dengan kutipan: Kereta beberapa menit lagi berangkat. Aku berlari dengan kencangnya bersama ayahku, membawa barang yang cukup berat. Tepat di depan pintu kereta aku berdiri.
- Di taman bunga, sesuai dengan kutipan: Tanpa aku sadari, aku telah berlari jauh dengannya hingga tiba di sebuah taman yang penuh dengan bunga.
- Di mesjid, sesuai dengan kutipan: Beberapa menit kami berjalan, kami pun tiba di sebuah mesjid.
- Di bawah pohon, sesuai dengan kutipan:Tempat singgah yang terakhir yaitu di bawah pohon yang amat rindang, di sebuah ayunan sederhana, kami duduk bersama.
b. Waktu
- Dini hari, sesuai dengan kutipan:Mataku sedikit terbuka, pertanda mimpi indah malam ini telah usai. Jam menunjukkan pukul 03.00.
- Pagi hari, sesuai dengan kutipan:Di pagi hari yang cerah, pemandangan yang indah tentu sudah sangat cukup untuk menyegarkan penglihatan ini.
- Siang hari, berdasarkan kutipan:Perjalanan masih jauh, aku belum shalat dzuhur. Biarlah, mungkin nanti bisa diqashar.
- Sore hari, berdasarkan kutipan: Hingga akhirnya, jam menunjukan pukul 16.45. Aku harus segera ke stasiun.
c. Suasana
- Sunyi, sesuai dengan kutipan: Di kesunyian, alarm berbunyi. Teralunkan musik merdu, terdengar bersemangat berjudul Sang Pemimpi.
- Nyaman, sesuai dengan kutipan:Asri, indah nan permai. Inilah salah satu tanda kekuasaanNya. Sesekali ku beranjak dari tempat dudukku, melangkah menuju pintu kereta. Angin berhembus, menerpa hijab biru mudaku, menggerakkan bibirku hingga akhirnya dapat tersenyum refleks, tanpa sadar. Di depan mataku terlihat sawah yang terhampar luas. Langit biru, bersama para awan dan juga burung yang beterbangan semakin memperindah suasana ini.
- Indah, menakjubkan, sesuai dengan kutipan:Aku tersenyum, terdiam, menengadah ke arah langit biru. Sungguh, inilah salah satu keindahan atas segala kekuasaanNya yang lain. Fatahmorgana alam yang begitu menyejukkan, jutaan warna yang berbeda, hidup membentuk sebuah kesatuan yang begitu luar biasa. Renunganku itu membuatku lupa akan segalanya untuk beberapa saat.
- Ramai, sesuai dengan kutipan:Subhanallah, mesjid yang megah dan indah. Para jamaahnya pun banyak, ada yang sedang membaca Al Qur’an, ada yang sedang duduk beristirahat, dan masih banyak lagi.
6. Gaya bahasa : hiperbola
Gaya bahasa yang digunakan kebanyakan berupa gaya bahasa hiperbola, karena terdapat banyak kata yang sekan-akan dilebih-lebihkan agar terasa lebih dari biasanya, contohnya dari beberapa kutipan yaitu
Tanpa aku sadari, aku telah berlari jauh dengannya hingga tiba di sebuah taman yang penuh dengan bunga. Keadaannya yang amat bersih dan asri membuatku terkesima tanpa batas. Aku tersenyum, terdiam, menengadah ke arah langit biru. Sungguh, inilah salah satu keindahan atas segala kekuasaanNya yang lain. Fatahmorgana alam yang begitu menyejukkan, jutaan warna yang berbeda, hidup membentuk sebuah kesatuan yang begitu luar biasa. Renunganku itu membuatku lupa akan segalanya untuk beberapa saat.
7. Amanat :
- Jangan berprasangka buruk terlebih dahulu kepada orang lain sebelum kita mengetahui kebenaran yang sebenarnya dari orang tersebut.
- Jangan mudah marah kepada seseorang.
- Syukuri segala kekuasaan yang telah diberikan oleh Allah.
- Urusan cinta, hanya Allah yang tahu. Kita tidak tahu kapan cinta itu akan datang, namun kita harus percaya bahwa suatu saat Allah akan menunjukan jalanNya yang indah dalam menunjukan cinta itu. Tinggal keyakinan dan kesabaran yang harus dimiliki.
Unsur-unsur Ekstrinsik
- Nilai sosial ; Interaksi atau komunikasi harus bisa dilakukan dengan baik agar tidak ada kesalahfahaman, contohnya yaitu yang diami oleh Lily dan lelaki berkaos merah yang beberapa kali mengalami kesalahfahaman.
- Nilai agama ; Rasa suudzon seharusnya dihilangkan terlebih dahulu bila memang tidak mengetahui kenyataannya. Suudzon ini telah terjadi pada cerpen di atas yaitu dari Lily ke lelaki berkaos merah
- Nilai moral ; Bersikap sopan sudah menjadi salah satu norma yang berlaku di lingkungan yang diceritakan pada cerpen. Salah satu contohnya yaitu berkata dengan lemah lembut dan selalu tersenyum
Ringkasan Cerita
Lily, seorang wanita yang solehah serta taat pada kedua orangnya tinggal di sebuah kota yang sederhana.Dia mendapatkan beasiswa untuk meneruskan pendidikannya ke Perguruan tinggi negeri yang ada di Malang. Dia berangkat sendiri ke Malang dengan menggunakan kereta api. Saat di jalan, dia bertemu dengan lelaki berkaos merah yang dia sangka bahwa laki-laki itu adalah lelaki asal kota yang amat angkuh. Sikap sinis dan pemarahnya mulai ia munculkan kepada lelaki itu.
Namun ternyata lelaki itu tidak seburuk yang difikirkan oleh Lily. Lelaki itu bahkan amat baik, ramah, dan sopan serta perhatian. Saat kereta berhenti, lelaki itu membawa Lily ke berbagai tempat yang indah dan tak disangka. Seharian mereka menghasbiskan waktu bersama. Satu hal yang amat disayangkan, mereka bisa saling dekat namun itu hanya sementara.
Setiap pertemuan tentu akan ada perpisahan. Mereka berpisah pada sore hari karena Lily harus meneruskan perjalanannya menuju Malang untuk menggapai cita-citanya. Walaupun lelaki berkaos merah itu tidak ia kenal, tapi dia bisa merasakan cinta yang tak biasa. Akhir yang tak begitu indah, mereka saling berpisah dalam keadaan tidak tahu nama masing-masing. Namun Lily yakin bahwa lelaki itu akan datang kembali dengan jalan Allah yang mungkin lebih indah dari perjalanan terindah yang dia lewati hari itu.
Langganan:
Komentar (Atom)