SINOPSIS NOVEL BIOLA TAK BERDAWAI
Dewa adalah seorang anak tunadaksa berumur 8 tahun, yang tinggal di rumah panti asuhan bernama Rumah Asuh ibu Sejati. Renjani, ibu angkat Dewa, adalah seorang mantan penari balet setelah dirinya diperkosa, hamil, dan dipaksa untuk mengaborsi kandungannya. Ia memutuskan membuang masa lalunya dan pindah ke Yogyakarta . Di perjalanan di kereta, ia duduk bersebelahan dengan seorang wanita yang disuruh untuk membuang bayi cacat yang kini berada dalam gendongannya. Sesampai di Yogyakarta , ia menempati rumah Neneknya yang sangat besar. Kemudian Renjani teringat kisah perjalanannya dan mendirikan rumah asuh untuk anak-anak yang cacat bernama Ibu Sejati. Seorang wanita yang filosofis terhadap sifat manusia sekaligus pintar membaca kartu tarot, Mbak Wid melamar sebagai dokter anak disana. Mbak Widpun mempunyai masa lalu sendiri, ia adalah anak dari seorang pelacur yang mudah hamil. Hanya Mbak Wid saja benih yang berhasil lahir, sementara itu, seluruh benih lain diaborsikan oleh sang ibu. Hal itu membuat Mbak Wid bertekad menjadi seorang dokter anak. Renjani kemudian menemukan Dewa, seorang anak cacat yang diberikan ke rumah itu. Dewa diasuh Renjani hingga Renjani merasa bahwa Dewa adalah anaknya sendiri. Sampai umurnya yang menjelang kedelapan, Dewa belum bisa merespon karena distorsi fungsi otak dan tuna wicara yang dialaminya.
Meskipun Dewa adalah anak tunadaksa, tapi dia bisa merasakan kasih sayang dari Rinjani. Jiwa Rinjani telah menyentuh jiwa Dewa. Sehingga Dewa mengalami kemajuan seperti merespon ketika Rinjani menari. Rinjani memutuskan Dewa dapat diobati dengan musik. Karena itu, Rinjani membawa Dewa ke acara recital musik di daerah Prambanan. Renjani berpikir Dewa bisa disembuhkan dengan terapi musik atau tarian, Renjanipun mencarikan sebuah resital musik atau tari untuk disinggahi. Mereka menonton resital musik biola. Setelah selesai, Dewa tidak mau pulang. Saat itulah seorang pemuda yang memainkan biola di resital tadi, Bhisma memperkenalkan diri sambil membawa biola dan tongkat geseknya. Dewa menggenggam tongkat itu terus. Bhisma akhirnya mengantarkan Renjani dan Dewa hingga ke Ibu Sejati. Pada malam hari, Bhisma mengajak Renjani untuk berkolaborasi dihadapan Dewa, Renjani akan menari sementara Bhisma memainkan biola. Hal itu terbukti, Dewa mengangkat kepalanya lagi.
Bhisma menganggap Dewa sebagai biola tak berdawai. Dan dia membuat sebuah lagu untuk Dewa. Rinjani dan Bhisma saling jatuh cinta, dan sama – sama saying dengan Dewa. Tetapi takdir berkata lain, Renjani mengalami kanker rahim yang merenggut nyawanya setelah 10 hari koma. Bhisma menangisi Renjani sambil memeluk Dewa yang terduduk disamping tempat tidur.
Potongan Cerita Dewa :
Namaku Dewa, umurku menjelang delapan tahun, dan aku tidak pernah tumbuh seperti anak-anak lainnya. Aku disebut sebagai anak tunadaksa, yakni memiliki lebih dari satu cacat, dan salah satunya adalah tunawicara. Menurut pemeriksaan, aku dilahirnkan dengan kelainan sistem peredaran darah, yang membuat tubuhku tidak berkembang. Aku juga disebut memiliki kecenderungan autuistik, mataku terbuka tapi tidak melihat, telingaku bisa menangkap bunyi tapi tidak mendengar, tentu karena jaringan otakku yang ternyata rusak. Leherku selalu miring, kepalaku selalu tertunduk – ya, pandanganku selalu terarah ke bawah. Aku seperti bayi tua, tubuhku keci tetapi wajah lebih berusia : anak-anak kecil suka memanggilku anak tuyul atau anak gendruwo, semuanya setan-setan gentayangan yang hanya mereka kira-kira saja bentuk rupanya.
Unsur Intrinsik
1. Tema : Sosial dan percintaan
2. Alur atau Plot :
Alur Maju : Karena menceritakan tentang kehidupan sehari – hari Dewa dan kemajuan Dewa sebagai anak tunadaksa bersama ibu angkatnya.
Alur Mundur : Karena menceritakan masa lalu Renjani
3. Tokoh :
1. Dewa : Cerdas, tunadaksa ( bisu, tuli, autis, lumpuh, buta )
2. Renjani : Penyayang, baik hati
3. Mbak Wid : Peduli dan baik hati.
4. Bhisma : Cerdas, Penyayang, dan pekerja keras.
4. Setting :
Latar Waktu : Pagi hari, Malam hari, dan Sore hari
Latar Tempat : Rumah Asuh Ibu , kereta, Kotagede, Yogyakarta.
Latar Suasana : Tegang, kacau, sedih, bahagia.
5. Amanat : Untuk lebih mengeksplorasi nilai – nilai dan menumbuhkan kepedulian yang semakin lama semakin pudar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar